13 Februari 2009

Ikan Koi-Satu Moyang dengan Ikan Emas

KERAGAMAN jenis dan warna, memang menjadi daya tarik tersendiri bagi penggemar ikan koi. Nama ikan ini bentuknya serupa ikan emas. Keduanya memang bermoyang satu, yakni ikan karper (Cyprinus carpio). Ini memang baru beberapa tahun terakhir cukup populer. Padahal, masuk di Indonesia sudah sekitar 20 tahun yang lalu.

Di Jepang, ikan ini dinamakan nishikigoi (Cyprinus carpadie). Artinya, ikan berwarna warni. Goi sendiri artinya ikan karper. Koi sendiri berasal dari bahasa Cina. Kebetulan ini sudah ada sejak 2.500 tahun lalu, pada zaman pemerintahan Raja Shoko dan sampai kini dipakai para penggemarnya di seluruh dunia.

Menurut catatan Kompas, ikan ini konon berasal dari Persia, di bawa ke Jepang lewat Cina dan Korea. Dan berkembang pesat sejak sekitar 160 tahun lalu. Munculnya ikan koi berwarna-warni adalah hasil penyilangan dan budi daya ratusan tahun.

Pada awalnya, peternak di Jepang hanya bisa menghasilkan varietas koi satu warna tunggal, yakji koi hitam (Karasugoi, Sumigoi), putih (Shiromuji), merah (Akagoi, Benigoi, dan Higoi), kuning (Kigoi), keemasan (Kingoi), dan putih keperakan (Gingoi).

Dari satu warna, kemudian muncul koi dua warna, yakni Kohako (putih merah), Shiro bekko dan Shiro utsuri (hitam putih). Lalu, muncul berikutnya koi tiga warna, yakni Taisho sanke dan Showa sanshoku (merah, hitam, putih). Dan berikutnya, melahirnya koi multi warna seperti Goshiki, terdiri dari unsur warna dasar biru bercak-bercak merah, hitam, biru tua, dan putih.

Kemudian, hasil persilangan dengan ikan karper Jerman yang dinamakan karper tak bersisik (Kagami goi) sekitar tahun 1904, menghasilkan koi sebagian bersisik dan sebagian tidak. Ikan ini dinamakan Ditsu nishikigoi.

Dalam pameran tersebut, jenis-jenis ikan koi yang dipamerkan dalam berbagai ukuran itu antara lain Asagi, Shusui, Goshiki, Koromo, Showa-sanshoko, Tancho, Bekko-utsur mono. Dalam pameran ini diperlombaan bagi penggembar yang mampu menampilkan varietas unggul, warna dan pola yang bagus, serta ukuran badannya.

Sampai saat ini, diperkirakan lebih dari 18 varietas utama ikan koi. Untuk memudahkan dalam perlombaan, biasanya belasan koi itu dimasukkan dalam beberapa golongan, antara lain Bekko, Utsurimono, Asagi/Shusui, Koromo, Kawarimono, Ogon, Hikarimoyo-mono, Hikari-utsurimono,, Kinginrin dan Tancho. Selain itu, ada juga Kohako, Taisho sanke dan Showa sansoku.


***
DALAM sejarah perkembangan pembiakan dan penyilangan ikan koi di Jepang, nama Indonesia juga menjadi catatan tersendiri. Pada tahun 1962, Pangeran Akihito bersama Putri Michoko menyempatkan diri berkunjung ke Bogor dan melihat ikan emas Indonesia dari ras Kumpay. Ikan emas yang nama latinnya sama dengan ikan karper Jepang ini dari varietas Flavipinnis.

Akihito berkeinginan menyilangkan ikan emas Indonesia dengan ikan karper Jepang. Dan pada tahun 1980, Balai Penelitian Ikan Air Tawar Bogor mengirim ke Jepang sekitar 60 ekor ikan emas ras Kumpay yang berumur enam bulan. Hasilnya, yang di bawa ke Indonesia kembali pada tahun 1991 ada lima macam koi silangan dengan lima macam kominasi warna.

Ke lima macam koi itu masing-masing Starin sanke (memiliki tiga warna), Kohako (putih dan merah), Asagi (warna punggung biru dan perutnya putih), Shusui (mirip Asagi, tetapi punggungnya bersisik), dan platinum. Semuanya, memiliki jumbai ekor dan sirip perut yang panjang, yang tidak dimiliki koi asli Jepang.

Melihat demikian banyak varietas koi ini, dapat dipahami para peternak di Jepang betul-betul melakukan pembiakan dan penyilangan yang sangat ketat. Bahkan dalam buku panduan The 2nd Bandung Chapter Internasional 2001, disebut-sebut, dari hasil sekali pembiakan mendapatkan sekitar 20.000 ekor anak ikan. Ini kemudian dilakukan pemilihan mana yang diperkirakan akan menghasilkan pola dan warna yang baik. Bibit yang kualitas baik diperkirakan hanya sekitar 10 persen atau sekitar 2.000 ekor.

Mereka langsung dipisahkan dari induknya sejak berukuran 4 cm. Ribuan ikan kemudian dimasukan ke dalam Mud Pond (kolam lumpur) yang cukup luas. Mereka dibesarkan hingga berukuran sekitar 15 cm. Ribuan ikan koi ini kemudian dilakukan penyeleksian lagi dan diambil yang memiliki kualitas baik sekitar 10 persen atau 200 ekor.

Ratusan ekor ikan koi inilah yang tetap dibesarkan di Mud Pond hingga ukuran jumbo. Ratusan ikan inilah yang akan dijadikan bibit induk dengan kualitas terbaik. Sedangkan yang tidak terpilih di pindahkan ke kolam beton untuk kemudian dijual.

Cara pembiakan dan penyilangan demikian belum banyak dilakukan di Indonesia. Ini bisa dimaklumi karena modalnya cukup besar, terutama untuk mendapatkan bibit induk yang baik. Di Indonesia, pemilihan induk yang baik belum terlalu diperhatikan.

Penyilangan masih sembarangan dan campur baur sehingga menghasilkan apa yang dinamakan ikan koi lokal. Selain itu, bibit induk koi yang disilangkan hanya memiliki ukuran sekitar 40-50 cm, sehingga tidak dapat menghasilkan koi ukuran besar. Akibatnya, harga jualnya juga menjadi murah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar